• Selasa, 16 Agustus 2022

Dionisa Bilqis Gusnisar : Tangan Ajaib Pelukis Grafis Vektor yang Kaya Prestasi Sejak Muda

- Selasa, 21 Desember 2021 | 19:29 WIB
IMG-20210903-WA0001
IMG-20210903-WA0001

“Seni itu adalah wujud rasa hati dan pikiran. Mereka terpadu menjadi satu dan menghasilkan karya indah,” itu kata pertama yang terucap dari bibir Dionisa Bilqis Gusnisar.

Gadis manis berkulit sawo matang ini adalah satu dari sekian pelukis muda Kalbar yang mengukir prestasi sejak di bangku sekolah.

Ibaratnya, kecil saja sudah kaya berbagai gelar lomba. Jadi tak heran jika menginjak usia dewasa ia penuh bakat. Tangannya mampu mengubah coretan jadi lukisan seolah-olah hidup.

Ia dijuluki tangan ajaib oleh sebagian kolega dan kerabat dekatnya.

Tapi, pastinya anak muda Kalbar belum banyak yang tahu, baik sosok dan kiprahnya seperti apa. Tak ada salahnya jika tulisan mengenai Dionisa Bilqis Gusnisar bisa menginpirasi para generasi milenial ini.



Dionisa dan Grafis Vektor

-
Dionisa Bilqis Gusnisar, pelukis muda Kalbar yang gigih dalam mengejar cita-citanya. Ist

Usianya baru 21 tahun. Cukup muda untuk gadis seusianya dengan profesi ‘berat’, yaitu pelukis. Dion biasa ia disapa. Ia lahir di Kabupaten Sanggau.

Gadis berkulit sawo matang itu merupakan pelaku seni desain grafis vektor yang biasa memamerkan karyanya melalui media sosial Instagram.

Kalian pasti bertanya-tanya apa sih desain grafis vektor itu? Apa beda dengan pelukis digital era sekarang?

Nah, desain vektor adalah adalah hasil karya grafis atau gambar digital yang terdiri dari titik dan garis dengan posisi tertentu. Posisi itu terkoneksi satu sama lain melalui perhitungan matematika. Perhitungan matematika dari titik, garis, dan arah inilah yang akan membentuk gambar.

Cukup sulit bukan untuk bisa melukis dengan pendekatan matematika? Tapi tidak bagi Dionisa.

Ia tampak ringan dalam setiap coretan tintanya itu. Guratan halus mampu memunculkan figurasi yang pas dan sesuai. Tak terlalu mencolok. Semua komposisi tinta dan warna berpadu datar dengan hasil memuaskan.



Berawal dari Nonton Kartun

-
Salah satu karya Dionisa Bilqis Gusnisar, yang cukup berkesan. Ist

Dion sama seperti anak lain diusianya. Sejak kecil ia suka nonton kartun, terutama yang berbau anime. Komik salah satu bacaan wajib baginya.

Saat menonton, ia sangat tertarik dengan gambar dan alur dan gerak kartun. Ia makin tertarik ketika membaca komik.
Melihat gambar-gambar di kertas hitam putih itu tersaji cantik, seperti berbisik untuk ia mengambil kertas dan pensil.

“Dari situ awalnya belajar melukis,” kata Dion.

Ia mengaku tak belajar otodidak tapi bertahap. Dion menikmati setiap proses ia mengenal tata cara melukis dari tahap awal hingga akhir.

“Aku sendiri termasuk yang menggeluti lukis secara bertahap dan perlahan. Mulai dari belajar sketsa, menggunakan pensil warna, crayon, cat poster, cat akrilik, dan masih banyak yang belum aku pelajari

Makin hari belajar, ia semakin menyukai semua hal tentang melukis. Ia gandrung dan mulai makin giat mencoret apapun.

“Kedepannya akan terus belajar hal baru tentang melukis,” ucapnya.



Mulai Lomba Sejak SD

-
Biasanya karya yang dilukis Dionisa Bilqis Gusnisar, adalah gambar potret. Seperti yang satu ini. Ist

Dion sadar ia punya bakat. Ia tak hanya bisa melukis tapi karakter lukisannya berbeda dengan pelukis kebanyakan.

Tidak ingin menyia-nyiakan talenta yang dimilikinya, Dion mulai memberanikan diri untuk mengikuti lomba melukis sejak SD.

Sang guru tahu betul bagaimana gadis itu belajar giat dan selalu lulus saat ujian seni. Dimotivasi, sang guru mulai membimbing dan menyemangatinya. Bahkan beberapa kali mempercayai Dion mengikuti lomba lukis mewakili sekolah.

Tak hanya guru, teman sekelasnya tak ketinggalan jadi pemandu sorak.

"Kepercayaan dan kata-kata semangat dari orang-orang sekitarku itu yang membuatku semangat untuk belajar. Mengikuti lomba-lomba itu termasuk salah satu cara untukku belajar. Bukan hanya belajar melukis saja, tapi belajar manajemen waktu, kedisiplinan, rasa percaya diri, kreativitas, serta keikhlasan," ujarnya.

Berbekal dengan bakat dan dukungan tersebut, akhirnya membuat Dion berhasil membuat sederet prestasi membanggakan.

Mulai dari Juara 1 lomba poster putri FLS2N tahun 2015 tingkat Kabupaten Sanggau. Juara 3 lomba desain motif Melayu tingkat SMA se-Kota Sanggau. Juara 2 lomba Indonesian Independence Day Poster Painting Competition. Bahkan, menyambet juara 1 lomba lukis PEKSIMINAS XV tingkat Universitas Tanjungpura, dan menjadi perwakilan Universitas Tanjungpura pada ajang PEKSIMINAS XV di tingkat nasional.



Karya Pertama yang Berkesan?

Saat ditanya lukisan pertama apa yang dia buat? Gadis berkerudung ini tersenyum. Matanya berkedip dan berkerut dan menjawab singkat “lupa”.

Ia lupa karya apa yang pertama ia buat. Tapi, dalam media kanvas, ia pertama kali menggunakan cat poster dan memberi nama lukisannya dengan judul ‘I'm eiffelling in love with you". Wajahnya tampak memerah saat berkisah tentang lukisan itu.

Meskipun tak gamblang menjelaskan, karya pertama di kanvas itu tak pernah ia lupa. Seolah menyimpan kenangan manis di kepala kecilnya itu.
Sekali lagi ia menunduk saat didesak bercerita apa di balik lukisan berkesan miliknya itu. Jawabnya, hanya senyuman lebar.

“Yang jelas, berkesan dan tak terlupa. Sebuah lukisan yang nanti aku rencanakan dibuat ulang,” katanya yakin.



Ada Pesan dan Rasa

Dion sendiri tidak pernah membeda-bedakan karya yang pernah ia lukis. Menurutnya semua karyanya selalu punya cerita dan pesan tersendiri.

Dion mengungkapkan, karya-karya yang dilukisnya banyak terinspirasi dari film, lagu, serta hal-hal di sekitarnya.

Selain itu, ide lukisan juga akan datang ketika melihat karya-karya para pelukis dan imajinasi.

Saat ditanyakan lagi mengenai bentuk karya yang ia sukai, gadis manis asal Sanggau punya pendapat unik.

Baginya, tidak ada patokan tertentu perihal karya karena selama karya tersebut dapat menyampaikan pesan dan menggerakkan hati penikmatnya, karya tersebut adalah karya yang menarik.

“Ada pesan dan rasa di setiap lukisan,” ucapnya.

Sedangkan untuk karya yang paling ia suka untuk dilukis adalah pemandangan, karakter orang seperti ala kartun dan anime.



Perjuangan di Balik Sebuah Lukisan

-
Salah satu karya yang dibuat sesuai permintan yang tak mudah pengerjannya. Ist

Menggeluti dunia seni sejak kecil tentunya banyak menyimpan kisah. Sedih dan senang. Banyak perjuangan di balik perjalanannya menjadi pelukis.

Ada kisah di setiap potong lukisan miliknya itu. Ada cerita yang bahkan jika ia ingat sekarang bisa membuat dara manis ini sedih.

Meskipun tidak pernah dijatuhkan secara langsung, Dion sedikit bercerita mengenai karyanya yang pernah dirobek di mading sekolah.

"Awalnya sedih, sudah capek-capek melukis tapi dirobek teman sendiri. Apalagi waktu itu masih masa remaja awal yang suka overthinking. Tak ada respon apa-apa sih. Tak marah juga, lebih kepada ikhlas dan memaafkan, mungkin saat itu jadi salah satu rintangan untuk meyakinkan diri melangkah lebih jauh," akunya.

Menanamkan rasa ikhlas dalam dirinya membuat Dion tak patah semangat karena jauh lebih banyak yang mendukung dibanding menjatuhkan.

Segala kritik dan saran yang ia terima juga merupakan bekal untuk membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya.

“Jatuh bangun itu pasti ada. Tapi sejauh ini aku selalu berusaha positif saat ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapanku,” katanya.

Untungnya, Dion termasuk orang yang tidak terlalu ambil pusing ketika sedang jatuh. Ia yakin masih banyak orang-orang yang mendukung, terutama doa kedua orangtua tercintanya. Mama Papanya.

“Aku yakin selama kita berdoa dan berusaha, akan ada suatu hari di mana kita bisa mencapai apa yang kita inginkan,” yakinnya.



Anak Muda dan Kreativitas Tanpa Batas

-
Banyak pihak mengapresiasi karya Dion. Seperti para mahasiswa ini. Ist

Dion sadar ia termasuk jajaran anak muda yang banyak mendapat perhatian dan jadi roll model untuk junior di bawahnya.

Ia kerap memberi tips untuk terus mengasah kemampuan dan kreativitas. Karena kreativitas itu tanpa batas. Sebagai anak muda, waktu luang harus banyak dihabiskan untuk berkreasi dan mencari hal-hal yang bisa mengasah kemampuan personal.

“Setiap orang itu punya bakat masing-masing. Tinggal kita sadar atau tidak. Latihan serius dan pantang menyerah jika ada kendala. Karena hidup dan perjalanan karir pasti ada jatuh bangun. Nah, itu tantangannya,” papar Dion.

Dion pun tak ingin pelit ilmu. Ia akan sangat terbuka untuk menerima siapapun yang ingin belajar melukis.

Ia juga berpesan agar orang-orang yang tertarik untuk menggeluti bidang yang sama untuk terus berusaha agar mendapat hasil yang maksimal dan memuaskan.

"Untuk teman-teman yang mau belajar melukis jangan minder dan patah semangat ya. Kalian pasti bisa. Selama prosesnya, tetaplah tekun dan semangat, serta jangan merasa terbebani dan nikmati alurnya,” ujar Dion memotivasi.



Terus Asah Bakat

Dion masih tak puas. Ia ingin terus mengasah bakat lukisnya itu. Ingin belajar banyak hal dan teknik lukisan yang lebih sulit.

“Berharap bisa meningkatkan talenta di bidang seni lukis dan grafis lebih baik lagi,” terangnya.

Dion pun tertarik belajar anatomi, perspektif, dan terknik mewarnai, baik percampuran warna ataupun teknik pemakaiannya.

Sebagai penikmat seni, Dion mengaku tak hanya menyukai seni lukis, ia menikmati setiap seni seperti seni peran, seni musik, seni tari, tulisan dan lainnya.

Ia kagum dengan ide dan kreativitas para pembuatnya. Dengan seni, para seniman bisa menyampaikan pesan dan perasaan mereka.

Sudah bertahun-tahun menggeluti bidang yang sama, Dion tak pernah bosan menikmati seni lukis.

Ia tidak melukis setiap hari karena menunggu waktu dan suasana hati yang tepat. Karena menurutnya jika dilakukan dengan terpaksa maka perasaan yang ingin ia sampaikan justru tidak tersampaikan.

“Terkadang kita jenuh dengan kegiatan atau aktivitas yang sama terus menerus. Ada kalanya kita perlu istirahat sejenak ataupun melalukan sesuatu yang baru," ujarnya.

Tak hanya dijadikan sebagai kesukaan, Dion juga menjual karya-karyanya melalui media sosial instagramnya yang bernama @deeybee.artwork.

Siapa Bilang jadi Seniman Lukis Tak Untung?

-
Salah satu pelanggan Dion yang menggunakan jasanya saat wisuda. Ist

Menurut Dion jadi seniman bisa menguntungkan. Siapa bilang seniman lukis tak bisa menghasilkan pundi rupiah?

Meskipun awalnya bingung bagaimana memasarkan produk lukisan, tapi yang namanya rejeki dan kesempatan pasti menemukan jalannya.

Pada waktu yang bersamaan, ada kegiatan organisasi yang meminta Dion untuk membuat foto vektor sebagai hadiah untuk pembicara.

"Disitulah aku memutuskan untuk jualan. Awalnya kurang pede. Tapi lama kelamaan ternyata menyenangkan dan membuatku bersemangat," katanya.

Harga lukisan Dion tak mahal. Ia tak mematok harga tinggi tapi standar. Namun, ada beberapa orang yang menilai jasa lukisan Dion mahal.

Padahal, bicara melukis akan ada modalnya yang tak sedikit. Mulai dari kanvas, cat, dan kuasnya. Terutama cat yang cukup menguras kantong Dion. Tapi kadung cinta, ia tak mempermasalahkan.

“Biasanya semakin bagus ataupun terkenal mereknya semakin mahal,” katanya.

Faktor kenapa lukisan itu mahal karena ada waktu pengerjaan serta ide tiap lukisan yang berbeda. Biasanya, semakin rumit lukisannya maka membutuhkan waktu pengerjaannya lebih lama.

“Dan sangat jarang ada pelukis yang mau membuat ulang karya yang sama," ucapnya.

Melukis adalah idealis diri bagi Dion. Tak hanya sekedar melukis dan dijual. Tapi ada rasa di setiap gelontoran karya yang dibuat.

Bukan soal harga mahal tapi ada harga diri di tiap lukisan itu. Melukis tak sekedar jadi hobi tapi sudah jadi bagian karakter diri. Bukan hanya pengorbanan tapi ada perjuangan untuk mencapai kesempurnaan karya.

Ini yang tengah Dion lakukan, berjuang untuk menyempurnakan apa yang sudah dicapai.

Biarlah Dion melanglang buana dengan karya indahnya. Biarlah asa Dion terungkap manis dalam torehan tinta. Dion tengah memulai jerat mimpi masa depan.

Rajutan cita-cita menjadi seniman lukis yang tak hanya membanggakan, tapi juga pengingat untuk setiap pesan yang ingin disampaikan. (Silvia)

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Sosok Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe

Sabtu, 9 Juli 2022 | 11:58 WIB
X